Aku dipaksa menggenggam tangkai mawar berduri.
Kutanya, “Untuk apa…?”
Ada yang menjawab, “Agar kau bisa menahan rasa sakitnya.”
Kutanya lagi, ” Mengapa harus aku…?”
Dia menjawab lagi,
“Karena hanya kau yang belum menggenggamnya, bahkan menyentuhnya.”
“Kau hanya tau bahwa mawar itu indah warnanya, elok rupanya, harum aromanya.”
“Lebih dari sekedar bunga ia itu hidup, punya nyawa tersendiri, dunianya lebih indah dari dunia kita, makhluk yang konon katanya sempurna.”
“Perisainya adalah duri bagi yang ingin merusak kehidupannya. “
“…adalah juga bantalan bagi yang ingin berkawan dengan indah hidupnya.”
Kutanya lagi, “Bagaimana caranya?”
Dia menjawab, “Dekati, rasakan, dan nikamati keindahannya.”
“Maka kan kau rasakan hidup seindah dan sesempurna mawar itu.”