<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Tujuanku Nanti</title>
	<atom:link href="http://j4smine.wordpress.com/2008/07/18/tujuanku-nanti/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://j4smine.wordpress.com/2008/07/18/tujuanku-nanti/</link>
	<description>Mencoba lebih memaknai hidup</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Aug 2008 07:23:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Penyair Glandangan</title>
		<link>http://j4smine.wordpress.com/2008/07/18/tujuanku-nanti/#comment-9</link>
		<dc:creator>Penyair Glandangan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 06:38:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://j4smine.wordpress.com/2008/07/18/tujuanku-nanti/#comment-9</guid>
		<description>badai gurun akan membawa aku, menghapus jejakku di pasir berdebu
angin pantai akan menghempasku, memporandakan istana pasirku
gelombang tenang akan menghantarku berlayar ; ke dunia lain , menghanyutkan rasa segala
dan tak kusangka salah jika hati telah bercermin 
mata telah tersayup 
langkah telah terkubur 

debu-debu jalanan menumbuhkan aku liar
di kolong jembatan hati malamku bersemayam
aku ini hanya pengemis nasib
peminta minta takdir bermuka garang

baju compang camping dan balutan sutra 
telah menjadi batas aturan mitos adat dan budaya
itu nyata, benar adanya...
kita ini hanyalah pemeran drama tuhan
telah jelas tokoh tergambarkan alur 
juga aturan mainya...

aku ini ilalang liar 
yang dikawini serangga-serangga kurang ajar
hingga matipun aku tetap liar 
termakan serangga-serangga kurang ajar

namun kau itu awan cakrawala
megah teratas pandangan mempesona 
disusunan beratap-atap langit 
hingga nantipun kau tetap megah...

kita ini beda, sebeda senyatanya tak sama
tak usah paksa mencoba sebrang lautan api 
akan percuma, terbakar nantinya di dasar laut 
jalan ini coba aku mengerti, maknai keindahan yang terbingkai 
hanya bisa dipandang, tak dimiliki

cobalah kita sadari nurani, terima peran yang ditokohkan tuhan 
ayolah kita pahami diri, itu bukan berarti menuruti kata hati
marilah kita tanyakan akal budi, ini berarti kita benam egonya rasa hati 
kelak pasti kau akan tahu itu?

lalu...
aku hanya bisa bilang padamu;
rajut perjalanan hari esokmu, ada disana bintang kan kau raih
urai cita-citamu itu, jangan sampai itu terhalang rasa memenjara
rangkai bunga-bunga taman hidupmu, dan biarkan kumbang yang berhak akan mencumbu madumu
aku hanyalah pengembara mimpi, petualang hayal ; pencari arti
bukan aku yang pantas menempati singgasana itu 
senja telah menantiku untuk kembali terlelap menanti pagi
kau harus tetap teruskan jalanmu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>badai gurun akan membawa aku, menghapus jejakku di pasir berdebu<br />
angin pantai akan menghempasku, memporandakan istana pasirku<br />
gelombang tenang akan menghantarku berlayar ; ke dunia lain , menghanyutkan rasa segala<br />
dan tak kusangka salah jika hati telah bercermin<br />
mata telah tersayup<br />
langkah telah terkubur </p>
<p>debu-debu jalanan menumbuhkan aku liar<br />
di kolong jembatan hati malamku bersemayam<br />
aku ini hanya pengemis nasib<br />
peminta minta takdir bermuka garang</p>
<p>baju compang camping dan balutan sutra<br />
telah menjadi batas aturan mitos adat dan budaya<br />
itu nyata, benar adanya&#8230;<br />
kita ini hanyalah pemeran drama tuhan<br />
telah jelas tokoh tergambarkan alur<br />
juga aturan mainya&#8230;</p>
<p>aku ini ilalang liar<br />
yang dikawini serangga-serangga kurang ajar<br />
hingga matipun aku tetap liar<br />
termakan serangga-serangga kurang ajar</p>
<p>namun kau itu awan cakrawala<br />
megah teratas pandangan mempesona<br />
disusunan beratap-atap langit<br />
hingga nantipun kau tetap megah&#8230;</p>
<p>kita ini beda, sebeda senyatanya tak sama<br />
tak usah paksa mencoba sebrang lautan api<br />
akan percuma, terbakar nantinya di dasar laut<br />
jalan ini coba aku mengerti, maknai keindahan yang terbingkai<br />
hanya bisa dipandang, tak dimiliki</p>
<p>cobalah kita sadari nurani, terima peran yang ditokohkan tuhan<br />
ayolah kita pahami diri, itu bukan berarti menuruti kata hati<br />
marilah kita tanyakan akal budi, ini berarti kita benam egonya rasa hati<br />
kelak pasti kau akan tahu itu?</p>
<p>lalu&#8230;<br />
aku hanya bisa bilang padamu;<br />
rajut perjalanan hari esokmu, ada disana bintang kan kau raih<br />
urai cita-citamu itu, jangan sampai itu terhalang rasa memenjara<br />
rangkai bunga-bunga taman hidupmu, dan biarkan kumbang yang berhak akan mencumbu madumu<br />
aku hanyalah pengembara mimpi, petualang hayal ; pencari arti<br />
bukan aku yang pantas menempati singgasana itu<br />
senja telah menantiku untuk kembali terlelap menanti pagi<br />
kau harus tetap teruskan jalanmu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
